▼

Empat Anak, Dua Generasi, Seribu Cabaran



Dengan nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Sebagai ibu bapa di usia pertengahan 40-an, membesarkan empat orang anak dalam era digital ini benar-benar menguji kesabaran. 

Gen Z, Sofea dan Arissa lebih berdikari, celik teknologi dan sangat menghargai privasi.  Kini, dua anak saya ni dah pun melangkah pergi melanjutkan pengajian mereka. Dulu rumah riuh rendah kini terasa sedikit sunyi. Kehilangan 'kawan-kawan bersembang' di rumah ni sedikit sebanyak memberi ruang untuk saya fokus pada sepasang anak Gen Alpha pula, Hariz dan Zahra.

Gen Alpha membesar dalam dunia yang sejak kecil lagi sudah dipenuhi skrin, aplikasi, AI dan media sosial. Mereka cepat belajar, cepat menangkap sesuatu… tetapi juga cepat bosan.

Kadang-kadang benda kecik pun boleh jadi besar. Mula-mula bergurau-senda, lepas tu suara dah tinggi, emosi dah tak terkawal. Pastu bergaduh. Sebagai parent, dengar anak-anak sendiri bergaduh sampai keluarkan kata-kata yang menyakitkan hati memang rasa down, rasa sungguh kegagalan mendidik anak.

Dalam masa yang sama, cabaran akademik mereka dua ni sangat membimbangkan saya. Pengaruh gajet, media sosial dan perubahan kehidupan selepas pandemik membuatkan fokus mereka mudah terganggu. Keputusan peperiksaan yang semakin merosot pula membuatkan hati saya ssemakin risau.

Puas ditegur, dinasihati dan dileteri. Lama-lama saya sedar yang budak-budak hari ini tak boleh dididik hanya dengan leteran.

Saya tertanya-tanya, “Kenapa susah sangat nak besarkan anak-anak zaman sekarang?”

Saya start tengok dari sudut yang berbeza.

Mungkin bukan anak-anak sahaja yang perlu belajar. Saya sebagai ibu bapa juga perlu terus belajar.

Belajar menetapkan batas tanpa terlalu mengongkong.

Belajar menegur tanpa menjatuhkan.

Belajar mendengar sebelum menghukum.

Dan belajar untuk berhenti seketika apabila emosi sendiri sudah terlalu penat.

Di rumah, saya cuba menetapkan sempadan yang jelas yang bahasa kasar dan pergaduhan fizikal tak boleh dinormalisasikan.

Untuk akademik pula, saya cuba kurangkan leteran dan lebih banyak berbincang secara bersemuka: Apa masalah sebenarnya sampai banyak subjek yang gagal? Si bongsu pernah bercerita, subjek yang dia cemerlang sebab cikgu tu baik dan pandai mengajar. Alamak, select!

Membesarkan empat anak daripada dua generasi memang melelahkan. Tetapi di sebalik segala drama, pergaduhan, gelak tawa dan kekalutan itu, ada juga satu 'magis' yang saya syukuri.

"Ya, Allah, berilah petunjuk kepada ku dan anak-anak keturunan ku."

Mereka mengajar saya bahawa setiap anak tidak perlu dibesarkan dengan cara yang sama kerana setiap anak hadir dengan dunia mereka sendiri.

Kepada ibu bapa yang membesarkan tiga, empat atau lebih anak, terutama yang merentas generasi… kita sebenarnya berada dalam kasut yang sama. 

Kalau sesiapa yang melalui fasa yang sama, kongsikan pengalaman. Mungkin cerita kita boleh menjadi kekuatan untuk ibu bapa lain yang sedang bertahan.

- Sharhanah

4 ulasan:

  1. Salam kenal. sure rindu bila berjauhan tinggalnya kan.

    BalasPadam
  2. Kakaaaak, I feel you sangat. Anak saya pun lintas generasi. Saya millenial, anak pertama gen z, anak bungsu gen alpha 😄. Memang yang gen z ini mandiri sangat. Belajar pun dah bisa sendiri, nilai2 di sekolah Alhamdulillah bagus.

    Tapi gen alpha, banyak zikir saya dibuat 🤣🤣. Dan lucunya, gen alpha ini punya banyaaaaak pertanyaaan yang terkadang bagi saya kelakar 😅😅. Tapi itulah hiburan saya kadang mendengar celotehan dia 😄.

    Saya dulu dibesarkan dengan cara militer oleh papa. Kami biasa sebut sistem VOC😅. Tapi kita dulu mana bisa melawan kan. Terima saja.

    Tapi saya pikir, cara itu tak bisa untuk anak sekarang. Sayapun sadar, cara militer yang dipakai papa, memang membuat saya disiplin, tapiiiii, hubungan saya dengan papa jadi tak akrab sampai sekarang. Dan jujur, saya memilih tinggal jauh dari orangtua, mereka di Medan, saya di jakarta, demi hubungan tetap baik. Karena kami nih kalau dekat jadi ribut, kalau jauh jadi rindu.

    Saya tak nak hubungan begini dengan anak saya.

    Cara mendidik terlalu keras, akan buat mereka jauh dari saya. Jadinya memang kita harus belajar, tarik ulur, tak terlalu keras, tapi juga jangan lembik sangat.

    Saya belajar mendengar apa keinginan mereka. Apa subject kesukaan mereka, bagaimana cara belajar yang mereka lebih selesa...

    Tapi merekapun harus bisa tunjukkan hasil dengan cara2 yang sudah mereka pilih. Macam anak gen alpha saya, dia lebih suka belajar di loteng rumah. Karena katanya lebih masuk ke kepala 😅😅. Oke saya izinkan. Asalkan nilai ujian harus bagus. Kalau ternyata tidak bagus, saya tak izinkan dia belajar di loteng 😄.

    Tapi ternyata memang dia bisa buktikan nilainya jadi bagus. Jadi okelaah, saya bebaskan belajar di atas. Malah saya buat lebih rapi tempatnya.

    Macam2 lah menghadapi anak zaman now 😅. Tapi bagi saya challenge lah. Karena mendidik anak nih pun proses yang tidak akan habis2. Selalu ada metode baru di setiap generasi

    BalasPadam
    Balasan
    1. Betul sangat tu. Kita dulu-dulu memang patuh je, tapi tulah... kesannya hubungan dengan parents jadi ada 'jurang' sebab rasa takut dan kurang mesra, walaupun hormat tu tetap ada. Saya pun tekad tak nak anak-anak rasa benda yang sama dengan saya nanti.

      Betul apa awak cakap, kalau cara mendidik terlalu keras, risau anak-anak makin jauh dari kita. Tapi bagusnya dia, sekurang-kurangnya dia janji mahu belajar dan perbaiki diri. Kita pun sama-sama belajar jadi ibu bapa yang lebih baik, kan?

      Apapun ikut zaman. Di sinilah indahnya bergelar ibu bapa. Kita bukan sekadar mengajar mereka, tetapi gelagat anak-anak itulah yang sebenarnya menjadi 'guru' yang mendidik kita untuk lebih sabar, tenang, dan matang dalam menempuh kehidupan.☺️

      Padam